Pengembangan Padi di Sorong Selatan


Lahan Padi di Distrik Moswaren Kabupaten Sorong Selatan

Selama ini di Kabupaten Sorong Selatan program pembangunan pertaniannya lebih dititik beratkan kepada pengembangan padi. Ketika kabupaten ini mulai dijalankan secara administrasi pada tahun 2004....Pemda memberi perhatian pada sektor ini.

Pengadaan mesin penggiling padi dan hand traktor diadakan terlebih dahulu meskipun saat itu belum ada satu pun lahan sawah. Pemerintah beranggapan bahwa alat ini terlebih dahulu harus ada dan berharap pada tahun anggaran berikutnya akan mulai dilakukan penanaman padi

Sungguh ironis memang……. lahan untuk menanam padi memang tersedia dan tenaga manusia yang mengerjakannya yaitu petani juga ada yaitu para petani transmigrasi. Namun berbagai sarana pendukung seperti input pertanian sama sekali belum tersedia. Petani transmigrasi lebih menyukai untuk membudidayakan padi sawah, sementara jaringan irigasi belum dibangun. Benih padi yang merupakan hal terpenting dalam pembudidayaan padi sama sekali tidak dapat diakses oleh petani transmigrasi.

Walhasil … rencana awal Kabupaten induk Sorong untuk membuat pemukiman transmigrasi di Distrik Moswaren guna dapat mengembangkan padi sawah berjalan di tempat. Para transmigrasi kemudian mengalihkan lahan mereka ke tanaman sayur-sayuran dan hortikultura seperti kacang panjang, sawi, tomat dan jeruk. Ada sebagian beralih profesi menjadi tukang ojek dan menjadi pedagang.

Bila kita melihat keadaan permintaan beras di daerah ini dan pulau papua seluruhnya, memang telah terjadi perubahan selera konsumsi penduduk lokal dari ubi-ubian dan sagu yang merupakan makanan pokok mereka ke beras.

Sementara itu penduduk non lokal yang pola konsumsinya adalah beras setiap tahun juga mengalami peningkatan di daerah ini. Pengamatan penulis terhadap arus kedatangan kapal Pelni yang datang dari luar pulau papua, pada umumnya bisa dijumpai sebuah perbandingan yaitu 11- 20 orang penumpang (penduduk non lokal) yang turun akan terdapat 1 – 2 orang penduduk lokal.

Supriadi (2008), mengungkapkan berdasarkan hasil olahan data Susenas pada Tahun 2002 dan beberapa sumber lain, tingkat konsumsi beras di Propinsi Papua Barat adalah 80 kg/kapita/tahun dimana lebih tinggi dari pangan pokok lokal yaitu sagu sebanyak 14 kg/kapita/tahun, ubi jalar 17 kg/kapita/thn dan keladi 2 kg/kapita/tahun.

Pada tahun 2007 di Propinsi Papua Barat, Waimbewer (2010) mengungkapkan pula jumlah kebutuhan beras telah mencapai 72.313 ton/tahun dan Kabupaten Sorong Selatan sendiri 6.095 ton /tahun.

Mengingat tingkat konsumsi dan kebutuhan beras yang sudah semakin tinggi, masyarakat atau para petani lokal mengharapkan agar bisa dikembangkan juga tanaman padi di daerah mereka. Tanaman pangan lokal mereka yaitu sagu, talas dan keladi mulai ditinggalkan. Pada daerah – daerah yang jauh dari kota Teminabuan atau yang sulit dijangkau lewat jalan raya, mereka masih tetap menanam talas dan keladi. Sementara sagu adalah merupakan hasil alam yang langsung diambil tanpa dilakukan pembudidayaan.

Share

7 thoughts on “Pengembangan Padi di Sorong Selatan

  1. excellent concepts, dari uraian diatas, jika dibolehkan saya dapat membuat sedikit komentar sebagai berikut :
    1. pertanian adalah basic sector yang perlu dikembangkan
    2. jika membahas pertanian, maka arahnya adalah komoditi apa yang relevan untuk dikembangkan di wilayah sorong selatan, tampaknya sudah diulas sedikit, diantaranya talas, padi, dan juga beberapa komoditi hortikultura,
    3. walaupun pertanian merupakan basic sector, namun kendala untuk membangun pertanian di wilayah sorong selatan tetap ada, diantaranya adalah dukungan in put saprodi (bibit, mesin, dll) yang masih terbatas serta dukungan fasilitas irigasi.
    mungkin saya bisa memberikan sedikit solusi terkait dengan padi, diketahui terdapat tipe padi sawah dan padi ladang (dataran tinggi/gogo) padi sawah potensi hasil dapat mencapai 4 – 5,4 ton/ha sementara padi ladang pada kisaran 2-2,5 ton/ha, jika kendala irigasi yang dihadapi, maka introduksi padi ladang/gogo memungkinkan untuk dikembangkan. trend yang berkembang saat ini adalah pengaruh perubahan iklim dan ketersediaan air (climate change and water scarecity) terhadap produksi pangan yang berujung pada kondisi ketersediaan dan keamanan pangan. untuk tanaman padi, sebagai salah satu pangan pokok utama bagi sebagian besar penduduk di Asia, INdonesia bahkan Papua maka arah pengembangannya adalah bagaimana mengoptimalkan produksi pangan (padi) ditengah perubahan iklim dan kelangkaan air, salah satu pendekatannya adalah melakukan seleksi padi, baik itu varietas ataupun genotipe yang mampu berproduksi optimal pada kondisi cekaman lingkungan yang beragam.
    pendekatan lainnya adalah bagaimana meningkatkan produksi gabah padi (kg gabah) per unit transpirasi dan evaporasi air. pendekatan ini mungkin memerlukan model kajian yang komperehensif dengan hasil yang dapat diukur dan dimodelkan dengan kemampuan produksi yang optimal dapat dicapai.
    beberapa varietas yang telah dirilis untuk tipe lingkungan dengan kondisi air yang terbatas antara lain Jatiluhur, varietas Way Apo Buru juga bisa namun umumnya padi ini bersifat amphibi bisa di lahan sawah ataupun lahan kering (deskrpsi padi yang telah dirilis dapat di lihat pada web : http://lampung.litbang.deptan.go.id/ind/images/stories/publikasi/deskripsipadi.pdf). Prinsipnya semua tipe padi dapat disawahkan ataupun di ladangkan dan pengaruhnya akan tampak pada hasil.
    Mungkin ini dulu, komentar teknis dari saya, mungkin terkesan sangat mikroteknis, tapi saya berharap dapat bermanfaat. GBU.

  2. Salam jumpa sebelumnya
    Terimakasih atas solusi yg diberikan. Sangat membangun dan memberikan pemikiran baru kepada kami terutama mengenai varietas padi yang harus dikembangkan di Kabupaten Sorong Selatan.
    GB too…

  3. saya lebih prefer pemerintah lebih pusatkan perhatian untuk ketahanan pangan sumber daya lokal yang selama ini kita punya. BUkan Padi ! padi tu dari Jawa! sebaiknya lebih focus ke Keladi bete (khas maibrat/sorsel)..Produksi yg memadai bisa dipakai untuk pemunihan kebutuhan di rumah tangga n di jual. Harga bete 1 tumpuk (4 bh) sj sd 15-20 rb. Sa perhatikan permintaan keladi ini di bbrp kota di wilayah Papua cukup tinggi. jd ini bisa jd salah satu komoditi yg bisa menguntungkan selain kita tetap mempertahankan sumber daya lokal yg kita miliki.

  4. Terimakasih sebelumnya atas kunjungan Saudari dan terlebih lagi mengenai kritiknya yang sangat membangun. dilihat dari segi ekonomi, memang pengembangan komoditi padi di Kabupaten Sorong Selatan dianggap tidak efisien alias rugi. namun demikian bila dipandang dari segi politik, padi adalah komoditi yang tetap harus dikembangkan, meskipun tidak mempunyai keunutungan sama sekali bagi petani yang melakoni komoditi ini. Pangan lokal memang harus tetap dikembangkan, namun itu tadi yang telah kami sebutkan di atas, padi lebih diminati untuk kalangan elit pengambil kebijakan karena bersifat politik dan menambah nilai pretise. Doakan yaa… moga pangan lokal kita tidak terpuruk di negeri tercinta kita ini Papua.

  5. semua yang telah disampaikan diatas itu benar, tetapi realitanya mana…, pemerintah sorong selatan hanya mamu membuat opini di media, membangun sorong selatan tidak susah kok….
    potensi sumber daya alam yang sudash tersedia itu di kelola baik, jangan hanya panas tai ayam… hahahhaeeee.

  6. pengembangan padi di Moswaren-Sorsel itu nda masalah yg penting itu pengairan, pengairan atau irigasi itu sangat di butuhkan varietas padi sawah. jk ini tdk di lakukan jgn mimpi kalau membangun lumbun padi atau beras di moswaren.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s