Cerita dari “Harit” : Produktivitas Kacang Tanah di Maybrat


Di Kabupaten Maybrat, kacang tanah sudah lama dikenal oleh petani semenjak zaman Belanda.  Petani sangat menyukai untuk membudidayakan kacang tanah karena menambah pendapatan dan memberikan keasyikan tersendiri.

Keasyikan apa yang membuat mereka betah untuk menanam ?  penasaran ?

Nah begini nich …….. waktu panen, sambil mencabut kacang tanah, mereka sudah bisa memakan beberapa buah biji kacang tanah mentah.  Itung –itung untuk mengganjal perut dan memberi semangat untuk bekerja.  Naahh …. Itulah yang cukup mengasyikan bagi penduduk ehh… maksudnya petani, tapi memang mayoritas penduduk disana adalah petani jadi saya sebut saja penduduk juga tidak masalah.

Hanya  1 atau 4 orang dari satu kampung yang PNS.  Meskipun PNS tetap juga mereka mempunyai kebun untuk kebutuhan sehari-hari terutama sayur-sayuran, tomat dan rica.  Rica itu sebutan disana untuk tanaman cabe.  (Buat yang masih bingung)

Nah begitu cerita mengenai suasana petani panen kacang tanah di Maybrat.  Sekarang balik lagi ke topik.

Oleh karena kacang tanah di Maybrat telah dibudidayakan dari zaman Belanda, maka jenis kacang tanah tersebut telah beradaptasi dengan baik terhadap kondisi lingkungan yang ada. Namun demikian hasil produksi dan produktivitasnya belum optimal bila dibandingkan dengan produksi dan produktivitas kacang tanah secara nasional.

Untuk mengetahui perkembangan produksi kacang tanah di Maybrat datanya bisa  diklik di sini.  Kita memakai dulu data dari kabupaten lama yaitu Kabupaten Sorong Selatan.  Untuk diketahui bahwa data tersebut diambil dari data perkembangan produksi kacang tanah di distrik-distrik yang sekarang terbentuk menjadi Kabupaten Maybrat.

Pada tahun 2008 luas panen kacang tanah adalah 60 hektar dengan produksi 39,3 ton dan rata-rata produksi per hektar adalah 0,65 ton/hektar.  Hasil ini menunjukkan produktivitas kacang tanah di Maybrat masih rendah bila kita membandingkan dengan tingkat produktivitas kacang tanah secara nasional.  Pada tahun 2008 secara nasional tingkat produktivitas kacang tanah adalah 1,2 ton/ha.

Bila kita menyamakan tingkat produktivitas nasional dengan tingkat produktivitas kacang tanah di Maybrat, maka produksinya dapat diperkirakan akan mencapai 72 ton di tahun 2008.  Itu seandainya sama ……..    Luar biasa lagi bila hasil produktivitasnya bisa menyamai Amerika dan Australia dimana mencapai 2,5 ton/ha sampai 3 ton/ha.  Wuiih …

( su menghayal tinggi )

Oke sadar, sadar

Menyikapi tantangan dan kondisi permasalahan yang ada maka untuk menjadikan kacang tanah sebagai komoditi unggulan di Maybrat  kita perlu melihat berbagai hal yang mempengaruhinya baik itu berupa kebijakan di tingkat korporat maupun secara teknis pertanian.

Secara teknis, selain faktor jenis benih yang masih lokal ada beberapa faktor kemungkinan yang berpengaruh terhadap tingkat produktivitas dan produksi kacang tanah. Faktor tersebut adalah  kondisi tanah, iklim dan serangan hama maupun penyakit

Secara tingkat birokrasi, saya cuma mengingatkan kepada Bapak-Bapak dan Ibu-ibu anak-anak negeri Maybrat baik yang berada di legislatif dan pemerintahan, coba direnungkan arti sebuah kacang tanah yang telah membawa masa depan kepada kita semua.  Biaya pendidikan hampir sebagian besar digantungkan kepada hasil produksi kacang tanah.  Maka kebijakan pengembangan pertanian terutama komoditi kacang tanah yang nota bene adalah sumberdaya lokal kita anak negeri di Maybrat perlu didukung secara bersama-sama.

7 thoughts on “Cerita dari “Harit” : Produktivitas Kacang Tanah di Maybrat

  1. sepertinya penulis seorang sarjana tani? hehe..
    maybrat itu dimana sih? Sorong Selatan dimana?
    Btw, salam kenal ya.
    Artikelnya semi-ilmiah. Ilmiah tapi bahasa ga terlalu formal. Like this😉

  2. tulisan sgat menarik n perlu di kembangkan lagi di masa-masa kini dan masa yg akan datang soalnya masalh kacang tanah di maibrat sudah terancam punah karena jumlah penghasilan dari kacang ini tidak seperti 5 tahun yang lalu. di mana selalu terdapat di berbagai kampung di maibrat selalu memproduksi dgan jumlah yg cukup namun akir2 ini hal tersebut terancam punah dan jika tidak di atasi maka permasalah ini benar2 terjadi di kemudian hari.. dan hanya tingal cerita..belaka.

  3. Terimakasih untuk komentarnya yang membangun dan kritis. Memang membutuhkan kerjasama dan peran masyrakat terutama petani untuk tidak meninggalkan pertanian ke hal-hal lain seperti adat dan politik. terutama saat ini dengan terjadinya masalah politik dan pemerintahan yang belum berjalan secara kondusif.

  4. Salam Kenal…
    Langsung aja ya mbak, saya pingin tahu banyak tentang Maybrat, soalnya dalam waktu dekat ini anak saya akan bertugas di Kabupaten Maybrat dalam program SM3T (Sarjana Mengajar di daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal) Kemdikbud. Untuk itu saya pingin info banyak mengenai Maybrat. Jika berkenan mohon Nomor telepon yang bisa di hubungi. trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s